Kabupaten Muna di Provinsi Sulawesi Tenggara, memang memiliki banyak obyek wisata yang menarik. Ada lokasi penyelaman uang logam di laut dalam, tari-tarian, pemandian air panas dan pemandian di perairan pantai yang landai.
Dari semua potensi yang dimilikinya itu, atraksi adu kuda selalu mendapat perhatian luas dari masyarakat. Atraksi adu kuda itu populer di kalangan masyarakat setempat dengan sebutan Pogeraha Adara yang berarti Adu Kekuatan Kuda.
Setiap tahun sedikitnya tiga kali atraksi itu digelar di lapangan terbuka Kecamatan Lawa, sekitar 20 km dari Raha, kota Kabupaten Muna. Pertunjukan pertama dan paling ramai ditonton masyarakat luas adalah saat-saat memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus.
Pertunjukan yang kedua adalah saat menjamu tamu penting dan pertunjukan yang ketiga adalah disaat menyemarakkan Hari Raya Idul Fitri.
Karenanya, tidak lagi mengejutkan begitu menjelang Idul Fitri, berbagai persiapan telah dilakukan untuk menyemarakkan pesta pertunjukan adu kuda di Lawa. Masyarakat datang dari berbagai kota seperti dari Kendari, Bau-bau, Kolaka dan sejumah pulau-pulau disekitar Kabupaten Buton dan Muna. Bahkan masyarakat Sulawesi Selatan juga ada yang menyempatkan secara khusus menonton atraksi tersebut.
Dalam waktu dekat ini, atraksi itu akan kembali digelar untuk menyamarakkan Hari Kemerdekaan RI yang ke-60. Masyarakat Sulawesi Tenggara yang ada di Kendari bahkan sudah mulai ramai membincangkan atraksi tersebut. Mereka kembali akan berduyun-duyun datang ke Muna dengan menggunakan jalur darat melintasi poros Kendari Selatan, dan ada juga yang menggunakan jalur laut dengan menggunakan kapal cepat dari pelabuhan Kendari.
Sayangnya, belakangan ini atrsksi adu kuda itu juga dimanfaatkan sebagai ajang perjudian terselubung. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh pengunjung yang datang dari luar Kabupaten Muna. Mereka mempertaruhkan sejumlah uang untuk kuda-kuda yang memenangkan pertandingan.
"Tidak jarang seluruh hotel di kota Muna penuh oleh pendatang yang ingin main judi di arena adu kuda di Lawa. Kebanyakan pengunjung yang main judi di arena pertarungan kuda datang dari daerah Makale, Toraja, Sulsel, juga ada dari Ambon. Merekalah yang membuat tontonan atraksi adu kuda ini menjadi makin menarik," ujar beberapa warga Lawa.
Pihak Kecamatan Lawa pun membenarkan bahwa setiap digelarnya pertunjukan adu kuda, sellau saja ada pihak-pihak yang memanfaatkan atraksi itu untuk ajang perjudian. "Tapi, kegiatan mereka itu susah ditertibkan. Soalnya cara perjudian mereka sangat rapi. Mereka tinggal menentukan saja mana kuda yang kira-kira akan memenangkan pertandingan, kemudian kuda itulah yang dipertaruhkan, benarkah akan menang atau malah kalah," ujar seorang pegawai kecamatan Lawa yang tak mau namanya ditulis di halaman ini.
Yang pasti, menurut Supardi, mantan Koresponden Suara Karya di Kendari yang kini menjadi Pejabat Humas Pemda Provinsi Sulawesi Tenggara, atraksi adu kuda di Lawa merupakan primadona pariwisata di Kabupaten Muna.
Atraksi tersebut menarik karena merupakan peninggalan raja-raja Muna di era pergerakan. Pada masa-masa awal pemunculannya di muka umum, adu kuda selalu ditampilkan jika raja-raja Muna sedang kedatangan tamu penting dari Jawa atau daerah lain. Pertunjukan adu kuda itu dimaksudkan sebagai penghormatan kepada tamu.
Tetapi belakangan ini pertunjukan adu kuda itu dikemas khusus untuk menarik wisatawan sebanyak mungkin ke Muna. Tak aneh jika menjelang pertunjukan itu instansi terkait di Muna gencar melakukan promosi dengan berbagai cara, termasuk mengiklankannya ke sejumlah media yang ada.
Memperebutkan Betina
Atraksi Adu Kuda itu sendiri selalu dimulai dengan memunculkan sekelompok kuda betina yang dipimpin seekor kuda jantan. Tentu saja, kuda yang dijadikan pemimpin kelompok kuda betina itu adalah kuda berbadan besar dan garang.
Di tempat lain, dimunculkan juga seekor kuda jantan yang bertubuh besar. Kuda jantan itu akan segera berusaha mendekatkan dirinya ke kuda-kuda betina yang ada di tempat terpisah.
Sementara kuda jantan yang ditugasi memimpin sejumlah kuda betina akan marah jika melihat kuda jantan asing dalam kelompoknya.
"Nah, dalam posisi seperti itulah awal pertarungan kuda biasanya dimulai," ujar Laode Pao, salah seorang pemilik sejumlah kuda aduan di Lawa.
Menurut Laode Pao, jika sesama kuda jantan sudah saling berhadapan untuk memperebutkan kuda betina, kuda yang bertingkah laku aneh-aneh. Antara lain dia akan menaikan kedua kakinya ke atas lalu meringkik sekuat-kuatnya. Bila sudah begitu, pemilik kuda harus membiarkan kudanya berkelahi.
Dalam posisi seperti itu, tak jarang para penjudi kemudian menawarkan nilai taruhan. Dari hasil perjudian, ada juga bandar judi yang kemudian menyisihkan uang obat untuk luka-luka kuda yang kalah dan uang rumput untuk kuda-kuda yang menang. Biasanya uang rumput dan uang obat itu diberikan langsung kepada pemilik kuda.
"Tapi, sebelum dipertandingkan, biasanya akan dihadirkan dulu para pawang kuda agar perkelahian kuda nantinya tidak menimbulkan bahaya, baik bagi kuda yang kalah dan bagi penonton. Soalnya, kalau tak diawasi pawang, dikhawatirkan kuda yang kalah akan marah kepada penonton yang mengelilingi pertarungan tersebut. Kuda kalau marah harus diwaspadai kaki dan mulutnya. Sepakan dan gigitan kuda bisa membuat orang harus masuk rumah sakit," tutur Masrudin, karyawan pelabuhan Raha yang mengaku pernah didigit kuda saat menonton Adu Kuda di Lawa, dua tahun lalu.
Anda ingin juga menonton atraksi adu kuda di Lawa?
Jika ingin menyaksikan pada saat-saat ramai, datangnya di saat pertunjukan itu digelar menjelang hari proklamasi 17 Agustus. Atau di saat perayaan Idul Fitri.
Di saat pertunjukan adu kuda digelar, tontonan tambahan yang kerap ditampilkan sebagai pembuka adalah tari-tarian kebesaran dari sejumlah gadis setempat, kemudian pencak silat dari sejumlah pemuda kelompok persilatan yang ada di Raha, juga atraksi musik dari artis lokal.
Laode Djeni Hasmar, salah seorang tokoh masyarakat Sulawesi Tenggara di Jakarta juga mengimbau pejabat terkait untuk lebih meningkatkan promosi atraksi wisata adu kuda. Selama ini, atraksi adu kuda itu, menurut pantauan Djeni Hasmar, hanya ditonton masyarakat Sulawesi Tenggara. Tapi jika promosi dilakukan secara teratur hingga ke berbagai lokasi hingga ke Jakarta, maka dimungkinkan akan lebih banyak wisawatan menyaksikan daya tarik adu kuda.
"Pemda Provinsi secara bertahap juga perlu meningkatkan kelancaran sarana transfortasi dari dan ke Raha-Kendari-Baubau, juga menyiapkan toko-toko khusus menjual suvenir dari Sulawesi Tenggara. Sampai sejauh ini toko yang menyiapkan suvenir khas Sulawesi Tenggara masih minim sekali," ujar Djeni Hasmar, yang juga mantan anggota komisi III DPR-RI itu. (Herman Abbas Noor)



0 Response to "Atraksi Adu Kuda Di Kabupaten Muna"
Posting Komentar