Wakatobi Marine Life News

Report by Richard Smith (September 2009, Trip 27 & 28)
I am well and truly settled into the swing of diving life here at Wakatobi Dive Resort, although there have been quite a few changes since I was here last. There are many more guides than during my previous stays, as the resort now offers private guiding. This allows divers to have their very own guide should they choose this service. The weather has been great lately and the windy season passed very quickly this year.
Ornate ghost pipefish
(Solenostornus paradoxus)

Recently we have been inundated with ghost pipefishes of several species. The Halimeda species has been spotted at three sites, a pair of Robust at a site called The Zoo, and the generally uncommon Ornate ghost pipefish has been seen at many sites over the last few weeks. Unlike other pipefish in which the male broods the eggs and young it is the female ghost pipefish that is in charge of the offspring. She broods the eggs between enlarged pectoral fins located under the body, which can also be used to sex these species.



Robust ghost pipefish
(Solenotornus cynopternus) 
Pyjama cardinal fish
(Sphaemira nematoptera)
I went to a site called the Zoo and was approached by a black-tip reef shark several times before it went about its day. The week ahead holds more of my pygmy seahorse behavioural observations, and I hope to spend a little time at the dive sites Roma and Table Coral City (with spawning tube sponges and schools of fish), which people are raving about at the moment!
Rare yellow variation pygmy sea horse
(Hippocampus Bargibanti)

Layangan Dari PULAU MUNA


 Kota Raha,Kabupaten Muna,Propinsi Sulawesi Tenggara tidak seperti kota-kota lain di indonesia (Bali dengan wisatanya dan Yogyakarta dengan budayanya).Dengan bermodalkan Layang-layang yang terbuat dari daun (sejenis ubi hutan-red) Kabupaten Muna mempromosikan diri kepada dunia Internasional dalam ajang Festifal layang-layang yang berlangsung tanggal 11-14 Agustus 2009 kemarin dan diikuti oleh 22 peserta dari 8 negara yaitu Jerman,Prancis,Jepang,Swedia Cina,India,Taiwan dan Malaysia serta 26 peserta dari dalam negeri.Kenapa layang-layang yang harus menjadi sarana promosi Kabupaten Muna?_________: ternyata layang-layang yang ada di Muna mempunyai nilai Historis dan bukan hanya sekedar permainan rakyat belaka."dijaman dulu,layang-layang dijadikan ritual menolak bala atau hal-hal yang buruk saat musim panen tiba, yaitu dengan upacara ritual menggantungkan berbagai makanan ditali layangan dan memutuskan tali layangan itu sehingga layangan terbang bersama makanan."
Moment festifal layang-layang juga dijadikan sarana promosi wisata,karena Kabupaten Muna juga memiliki banyak Obyek wisata menarik seperti Permandian Napabale,Obyek wisata Liang Kabori ,kegiatan Masyarakat perkelahian kuda dan masih banyak lagi yang patut untuk disejajarkan dengan obyek wisata dan Budaya lain di Indonesia.
banyaknya penggemar layangan dari berbagai negera yang telah mengenal janis layangan tradisional dari Muna yaitu terbuat dari daun 'Kolope' (sejenis ubi hutan-red) dan sanggup bertahan diudara hingga 7(tujuh) X 24jam......
Olehnya itu,marilah kita bangga menjadi Masyarakat Muna Yang berbudaya

TARI LINDA


Alkisah Omputo (Raja Muna) sedang berburu. Diperkirakan di daerah Labora. Tanpa sengaja, Omputo menemukan para bidadari sedang bercengkerama di Pantai Labora yang menawan.

Ia memerhatikan para bidadari menaruh selendangnya di dahan dan ranting sebuah pohon. Dengan sengaja ia mengambil salah satu selendang secara diam-diam dan lalu sembunyi menunggu dari balik kerimbunan.

Senja meninggalkan semburat jingga di ufuk barat. Para bidadari mengakhirkan senda guraunya hari itu. Tapi salah satu diantara mereka tidak bisa ikut terbang karena tidak bertemu selendangnya. Keburu malam, peri malang itu ditinggal seorang diri.


Omputo menyeruak dari balik rerimbunan dan mengajaknya pulang. Sang Bidadari menolak dengan penjelasan bahwa dirinya bukan seperti manusia, ia makhluk yang berbeda dari dunia kahyangan dan memiliki banyak pemali.

Tapi Omputon bersikukuh bidadari itu harus diboyong. Tanpa selendang, sang Bidadari hanya bisa pasrah. Ia pun diajak ke palaminan.

Bidadari selanjutnya diberinama Wa Ode Fari. Ia bersedia diperisteri dengan satu syarat yaitu tidak boleh membuka penanak nasi ketika dirinya sedang memasak. Omputo tidak masalah.

Hari berganti, musim berubah. Mereka kemudian dikaruniai seorang putri . Dua tahun berlalu, ada masa panen, ada masa panceklik. Disaat orang lain mulai mengeluhkan kehabisan stok beras di lumbung, lumbung Omputo masih berlimpah. Omputo bingung.

Teringat larangan isterinya pantang membuka penanak nasi, Omputo kembali tergugah penasaran. Ia merasa ada misteri dibalik kelakuan isterinya. Rasa ingin tahunya kali ini sangat besar.

Suatu saat isterinya pergi mencuci usai mendudukan periuk nasi di tungku, ia nekad melanggar pantangan siterinya. Ia membuka penutup panci dan terkejut sebab di dalam periuk hanya berisi satu butir beras. Setelah mendidih, periuk secara ajaib penuh berisi nasi.



Keesokan harinya, Wa Ode Fari yang tidak tahu kejadian itu pergi ke dapur hendak menanak nasi. Ia menuang sebutir beras lalu menunggunya hingga matang. Tapi betapa terkejut setelah matang periuk tidak penuh seperti biasanya. Ia sadar, suaminya telah melanggar pantangan.

Sejak terbongkarnya rahasia itu, Wa Ode Fari kehilangan kesaktian. Dan semenja itu Wa Ode Fari harus menumbuk padi seperti layaknya manusia. Hari demi hari stok beras di lumbung terus berkurang. Pasokan padi di lumbung semakin tipis.

Suatu pagi ketika Fari seperti biasa hendak mengangkat padi terakhir untuk ditumbuk, ia menemukan selendang di dasar lumbung, yang bertahun-tahun hilang darinya. Ia gembira sekaligus sedih. Meninggalkan seorang anak dan sumi yang perlahan-lahan mulai dicintainya. Ia mulai merasakan keindahan menjadi manusia saat anaknya bermanja-manja penuh kemesraan.

Tapi bagaimanapun, dunianya bukan disini. Maka ia berpamitan pada anak dan suaminya lalu terbang dengan sebongkah air mata berurai bertebaran di udara menjadi rintik hujan. Dibawah kelam langit ditengah rinai hujan, anak dan suaminya menatap pilu kepergian itu dengan kesedihan mendalam.

Omputo mengakui kelalaiannya namun terlambat menyadari mengapa tidak mematuhi pesan isterinya. Perpisahan seperti hari itu tidak pernah dibayangkan bakal terjadi.
Konon sebelum beranjak terbang ke kahyangan, Wa Ode Fari sempat menari sambil mendendangkan nasihat dan petuah untuk anaknya dari udara.

Sepeninggal ibunya, sang anak merasakan perbedaan yang mendalam. Ia kehilangan belai manja ibunya. Bagaimanapun berbeda sentuhan ibu dibanding ayah, terutama bagi jiwa kecil seorang anak berusia dua tahun.

Dan itu membuat sang anak merindu. Ia sering tampak termenung sendiri. Di bawah pohon tempat terakhir dibunya masih terlihat. Ia masih mampu mengenang semuanya secara detail.

Suatu hari di siang bolong yang terik. Sang anak tak lagi merasakan teriknya matahari, rindu yang membakar lebih panas dari matahari di kepalanya. Di sana, dibawah pohon kenangan, sang anak tiba-tiba mengayunkan tubuhnya, meliuk-liuk, seperti gerak ibunya saat terakhir.

Ia menari, menarikan tarian ibunya dari mula hingga akhir, tiada yang terlewatkan. Teman bermain yang menyaksikan belum pernah melihat tarian seindah itu. Takjub dan terpana, mereka hanya bisa bergerombol sambil terlongo. Sambil menari, sang anak mendendangkan lagu ibunya. “Dio Lakadandio, dandio lakadandio……..”

Konon itulah asal muasal tari Linda dan nyaniannya. Tarian yang tidak pernah diketahui siapa penciptanya, dan lagu yang tidak pernah diketahui artinya. Belum ada yang mampu menerjemahkan bait nyanyian itu hingga kini.

Atraksi Adu Kuda Di Kabupaten Muna


Kabupaten Muna di Provinsi Sulawesi Tenggara, memang memiliki banyak obyek wisata yang menarik. Ada lokasi penyelaman uang logam di laut dalam, tari-tarian, pemandian air panas dan pemandian di perairan pantai yang landai.

Dari semua potensi yang dimilikinya itu, atraksi adu kuda selalu mendapat perhatian luas dari masyarakat. Atraksi adu kuda itu populer di kalangan masyarakat setempat dengan sebutan Pogeraha Adara yang berarti Adu Kekuatan Kuda.

Setiap tahun sedikitnya tiga kali atraksi itu digelar di lapangan terbuka Kecamatan Lawa, sekitar 20 km dari Raha, kota Kabupaten Muna. Pertunjukan pertama dan paling ramai ditonton masyarakat luas adalah saat-saat memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus.

Pertunjukan yang kedua adalah saat menjamu tamu penting dan pertunjukan yang ketiga adalah disaat menyemarakkan Hari Raya Idul Fitri.

Karenanya, tidak lagi mengejutkan begitu menjelang Idul Fitri, berbagai persiapan telah dilakukan untuk menyemarakkan pesta pertunjukan adu kuda di Lawa. Masyarakat datang dari berbagai kota seperti dari Kendari, Bau-bau, Kolaka dan sejumah pulau-pulau disekitar Kabupaten Buton dan Muna. Bahkan masyarakat Sulawesi Selatan juga ada yang menyempatkan secara khusus menonton atraksi tersebut.

Dalam waktu dekat ini, atraksi itu akan kembali digelar untuk menyamarakkan Hari Kemerdekaan RI yang ke-60. Masyarakat Sulawesi Tenggara yang ada di Kendari bahkan sudah mulai ramai membincangkan atraksi tersebut. Mereka kembali akan berduyun-duyun datang ke Muna dengan menggunakan jalur darat melintasi poros Kendari Selatan, dan ada juga yang menggunakan jalur laut dengan menggunakan kapal cepat dari pelabuhan Kendari.


Sayangnya, belakangan ini atrsksi adu kuda itu juga dimanfaatkan sebagai ajang perjudian terselubung. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh pengunjung yang datang dari luar Kabupaten Muna. Mereka mempertaruhkan sejumlah uang untuk kuda-kuda yang memenangkan pertandingan.

"Tidak jarang seluruh hotel di kota Muna penuh oleh pendatang yang ingin main judi di arena adu kuda di Lawa. Kebanyakan pengunjung yang main judi di arena pertarungan kuda datang dari daerah Makale, Toraja, Sulsel, juga ada dari Ambon. Merekalah yang membuat tontonan atraksi adu kuda ini menjadi makin menarik," ujar beberapa warga Lawa.

Pihak Kecamatan Lawa pun membenarkan bahwa setiap digelarnya pertunjukan adu kuda, sellau saja ada pihak-pihak yang memanfaatkan atraksi itu untuk ajang perjudian. "Tapi, kegiatan mereka itu susah ditertibkan. Soalnya cara perjudian mereka sangat rapi. Mereka tinggal menentukan saja mana kuda yang kira-kira akan memenangkan pertandingan, kemudian kuda itulah yang dipertaruhkan, benarkah akan menang atau malah kalah," ujar seorang pegawai kecamatan Lawa yang tak mau namanya ditulis di halaman ini.

Yang pasti, menurut Supardi, mantan Koresponden Suara Karya di Kendari yang kini menjadi Pejabat Humas Pemda Provinsi Sulawesi Tenggara, atraksi adu kuda di Lawa merupakan primadona pariwisata di Kabupaten Muna.

Atraksi tersebut menarik karena merupakan peninggalan raja-raja Muna di era pergerakan. Pada masa-masa awal pemunculannya di muka umum, adu kuda selalu ditampilkan jika raja-raja Muna sedang kedatangan tamu penting dari Jawa atau daerah lain. Pertunjukan adu kuda itu dimaksudkan sebagai penghormatan kepada tamu.

Tetapi belakangan ini pertunjukan adu kuda itu dikemas khusus untuk menarik wisatawan sebanyak mungkin ke Muna. Tak aneh jika menjelang pertunjukan itu instansi terkait di Muna gencar melakukan promosi dengan berbagai cara, termasuk mengiklankannya ke sejumlah media yang ada.

Memperebutkan Betina

Atraksi Adu Kuda itu sendiri selalu dimulai dengan memunculkan sekelompok kuda betina yang dipimpin seekor kuda jantan. Tentu saja, kuda yang dijadikan pemimpin kelompok kuda betina itu adalah kuda berbadan besar dan garang.

Di tempat lain, dimunculkan juga seekor kuda jantan yang bertubuh besar. Kuda jantan itu akan segera berusaha mendekatkan dirinya ke kuda-kuda betina yang ada di tempat terpisah.

Sementara kuda jantan yang ditugasi memimpin sejumlah kuda betina akan marah jika melihat kuda jantan asing dalam kelompoknya.

"Nah, dalam posisi seperti itulah awal pertarungan kuda biasanya dimulai," ujar Laode Pao, salah seorang pemilik sejumlah kuda aduan di Lawa.

Menurut Laode Pao, jika sesama kuda jantan sudah saling berhadapan untuk memperebutkan kuda betina, kuda yang bertingkah laku aneh-aneh. Antara lain dia akan menaikan kedua kakinya ke atas lalu meringkik sekuat-kuatnya. Bila sudah begitu, pemilik kuda harus membiarkan kudanya berkelahi.

Dalam posisi seperti itu, tak jarang para penjudi kemudian menawarkan nilai taruhan. Dari hasil perjudian, ada juga bandar judi yang kemudian menyisihkan uang obat untuk luka-luka kuda yang kalah dan uang rumput untuk kuda-kuda yang menang. Biasanya uang rumput dan uang obat itu diberikan langsung kepada pemilik kuda.

"Tapi, sebelum dipertandingkan, biasanya akan dihadirkan dulu para pawang kuda agar perkelahian kuda nantinya tidak menimbulkan bahaya, baik bagi kuda yang kalah dan bagi penonton. Soalnya, kalau tak diawasi pawang, dikhawatirkan kuda yang kalah akan marah kepada penonton yang mengelilingi pertarungan tersebut. Kuda kalau marah harus diwaspadai kaki dan mulutnya. Sepakan dan gigitan kuda bisa membuat orang harus masuk rumah sakit," tutur Masrudin, karyawan pelabuhan Raha yang mengaku pernah didigit kuda saat menonton Adu Kuda di Lawa, dua tahun lalu.

Anda ingin juga menonton atraksi adu kuda di Lawa?
Jika ingin menyaksikan pada saat-saat ramai, datangnya di saat pertunjukan itu digelar menjelang hari proklamasi 17 Agustus. Atau di saat perayaan Idul Fitri.

Di saat pertunjukan adu kuda digelar, tontonan tambahan yang kerap ditampilkan sebagai pembuka adalah tari-tarian kebesaran dari sejumlah gadis setempat, kemudian pencak silat dari sejumlah pemuda kelompok persilatan yang ada di Raha, juga atraksi musik dari artis lokal.

Laode Djeni Hasmar, salah seorang tokoh masyarakat Sulawesi Tenggara di Jakarta juga mengimbau pejabat terkait untuk lebih meningkatkan promosi atraksi wisata adu kuda. Selama ini, atraksi adu kuda itu, menurut pantauan Djeni Hasmar, hanya ditonton masyarakat Sulawesi Tenggara. Tapi jika promosi dilakukan secara teratur hingga ke berbagai lokasi hingga ke Jakarta, maka dimungkinkan akan lebih banyak wisawatan menyaksikan daya tarik adu kuda.

"Pemda Provinsi secara bertahap juga perlu meningkatkan kelancaran sarana transfortasi dari dan ke Raha-Kendari-Baubau, juga menyiapkan toko-toko khusus menjual suvenir dari Sulawesi Tenggara. Sampai sejauh ini toko yang menyiapkan suvenir khas Sulawesi Tenggara masih minim sekali," ujar Djeni Hasmar, yang juga mantan anggota komisi III DPR-RI itu. (Herman Abbas Noor)